Aku Diponegoro poster.jpg

Galeri Nasional Indonesia

Kebanyakan masyarakat Indonesia generasi kini mengenang Pangeran Diponegoro sebagai pahlawan perjuangan awal abad kedelapan belas yang memimpin perlawanan Jawa terhadap Belanda dalam pertarungan yang dikenal sebagai Perang Diponegoro (1825-1830). Selain itu, banyak juga yang hanya mengenali figur pemimpin Perang Jawa ini sebagai pangeran Yogyakarta yang dapat dilihat di ruang-ruang kelas seluruh pelosok Indonesia, berdampingan dengan para pahlawan nasional lainnya.

Vrije Universiteit Amsterdam

Terra Cognito Indonesia

Rebel Prince.jpg

The Jakarta Globe

February 25, 2015

Held parallel to the massive “Aku Diponegoro” exhibition, currently showing at the National Gallery in Central Jakarta, the Dutch cultural center Erasmus Huis features another exhibition on the same subject, revealing another side to the Indonesian national hero — “Prince Diponegoro in Dutch Perspectives From 1800 Until Now.”

Sadiah Boonstra

Tempo

February 23, 2015

"Diponegoro adalah orang bodoh". Pernyataan itu disampaikan Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch dan Kolonel Jan-Baptist Cleerens kepada Kolonel F.D. Cock dalam suratnya pada 26 Februari 1830. Mereka menyebut Diponegoro sebagai "either very stupid or very dissembling person".

NOmagz.com

Moesson

Wat ze te binnen schiet bij Indonesië en er bestaat een goede kans

dat behalve het eten, de vriendelijke mensen en Bali, ook wajang langskomt.Het poppenspel en de wajangfiguren zijn iconisch voor Indonesië. Maar ook in de wetenschap  heeft wajang de aandacht getrokken van de nodige onderzoekers.

SPUI25

October 28, 2014

Het wayang theater uit Indonesië wordt vaak gezien als iets dat eeuwenlang onveranderd is gebleven en met uitsterven bedreigd wordt. UNESCO onderschrijft dit statische idee van wayang door het te erkennen als immaterieel erfgoed (2003). Sadiah Boonstra laat tijdens deze Broodje Kennis een heel ander beeld zien en toont hoe wayang altijd in beweging is geweest en sinds de koloniale tijd ‘gemaakt’ is tot cultureel erfgoed.

Kompas

July 4, 2009

Jangan mendalang kalau tak mampu mencerdaskan penonton, demikian pesan dalang terkenal Ki Enthus Susmono dari Tegal, Jateng. " Sebagai dalang, saya harus bisa menawarkan kecerdasan di hadapan publik.

Tribun Jateng

June 25, 2015

Tanggal 13-14 Mei 2009 sebuah konferensi bertajuk “The Heritage Theatre” dihelat di Rotterdam. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari program penelitian yang diinisiasi Erasmus University Rotterdam (kini Erasmus School of History, Culture and Communication; ESHCC).Hal cukup membanggakan, nama Ki Enthus menjadi salah satu topik bahasan.

Sadiah Boonstra © 2020

  • sadiahcurates Instagram
  • sadiahcurates LinkedIn
  • sadiahcurates Twitter
  • sadiahcurates Academia